(Sumber : https://encryptedtbn0.gstatic.com/images?/)
Sampah, menurut KBBI merupakan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi.
Saya rasa sangat sepakat dengan makna yang terkandung apa itu sampah, sejatinya sesuai benda yang memang bukan hal yang begitu baik, tetapi merupakan sesuatu benda yang sudah tak layak pakai, atau benda yang memang harus dijauhkan dari kita sebagaimana manusia yang selalu ingin hidup sehat dan bersih.
Faktanya, tidak sedikit sampah yang kita temui di beberapa tempat, dari pelosok desa, hingga di perkotaan. Bahkan tidak sedikit anggaran dalam hal bagaimana mengelola persampahan.
Dampak dari sampah yang ada, telah banyak kita temui seperti halnya yang terjadi di lingkungan masyarakat perkotaan yang rentan terkena banjir di akibatkan karena tersumbatnya selokan-selokan atau saluran air akibat dari sampah, lebih tragis lagi setelah terjadinya kebanjiran makan tak sedikit kejadian rumah yang tenggelam akibat genangan air.
Lantas jika sudah demikian keadaannya, siapa yang mesti kita salahkan?
Pemerintah? Lagi-lagi pemerintah, maaf bukan bermaksud saya berpihak kepada pemerintah atau siapapun itu. Akan tetapi yang perlu di garisbawahi adalah terjadinya suatu akibat tidak akan pernah terjadi apbila memang ada penyebab besar yang menjadikannya masalah.
Semakin berkembangnya kependudukan maka tidak dapat di hindari bahwa penyebaran sambah akan terus bertumpuk, dan kita sepakat ini adalah masalah yang mesti di selesaikan hingga tuntas sampai ke akar-akarnya.
Saya tertarik kemudian untuk menulis dengan judul Antara Sampah, Pemuda dan Indonesia.
Alhamdulilah saya diberikan mengenyam pendidikan di sebuah Universitas, yang pada akhirnya perkembangan pola fikir sebagai manusia yang secara fitrahnya selalu menginginkan kebaikan.
5 tahun sekolah dasar saya lalui, 3 tahun sekolah menengah pertama saya lewati, hingga menyelesaikan masa studi di Aliyah 3 tahun dan berlanjut hingga berhijrah status sebagai mahasiswa.
Sepengatahuan saya, ada bagian yang terlewatkan dalam masa pendidikan itu dan itu sangat berpengaruh besar terhadap privasi sebagai pemuda aset bangsa ini. Masuklah dalam kategori penanaman nilai-nilai akhlak.
Mengapa pada bab akhlak, kurang lebih 12 tahun masa studi ternyata tidak cukup untuk mendidik manusia menjadi pribadi yang bijak dalam menempatkan sampah. Lebih mirisnya lagi, karena sudah merasakan kegagalan 12 tahun mengenyam pendidikan sehingga meskipun ia telah berpindah status sebagai mahasiswa tidak sedikit yang juga belum tersadarkan hanya untuk membuang sampah pada tempatnya.
Berbagai modus yang terjadi anak muda Indonesia dalam membuang sampah, melalui kaca mobil disaat berperjalanan, buang sampah di tempat-tempat keramaian, dan banyak cara lain yang mungkin kita semua tau dan bukan menjadi rahasia umum. Terlebih lagi dengan rasa bangganya membuang sampah tidak pada tempatnya dengan dalih. "Kan sudah ada tukang sapu". Jika terus berfikir seperti ini maka begitu suramnya masa depan bangsa ini.
Bagaimana akan merawat Indonesia yang luasnya dari hujung Sabang sampai Merauke dan dengan ribuan gugusan pulanya. saya rasa belum siap menjadikanya talbatun toyyibatun warobbun Ghofur.
Ayolah bijak dalam menempatkan sampah. Buanglah tradisi burukmu yang hanya bisanya membuang sampah di sembarang tempat. Sudah banyak tempat sampah yang telah di sediakan namun kita lebih nyaman membuangnya di tempat perkumpulan manusia.
Jika generasi pemuda mampu membuang sampah sesuai pada tempatnya. Saya penuh berkeyakinan akan siap untuk merawat Indonesia yang Allah amanahkan kepada kita manusia sebagai Khalifah dimuka bumi ini.
Jangan buang sampah sembarang.
Bukankah satu hadits cukup untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita
Annadhofatu minal iman. Kebersihan adalah sebagian dari iman melalui cara sederhana kita kelola sampah pribadi kita oleh kita.
Allahua'lam Bishoab.
Oleh.
Giyanto
PD KAMMI Ogan

Komentar
Posting Komentar